Selasa, 21 November 2017 ikuti edisi cetak SKU Riau Global versi EPAPER ONLINE

20:30 WIB - Pemda Kuansing, "coffee morning" bersama insan pers | 20:30 WIB - Natuna Berduka, Mantan Wabup Natuna Imalko Meninggal Dunia | 20:30 WIB - Sisa 38 Hektar, Dandim Optimis Mampu Siapkan Cetak Sawah | 20:30 WIB - Bupati Pelalawan, HM Harris Senam Sehat Bersama Masyarakat Pangkalan Kerinci | 20:30 WIB - Komitmen Dishub Jaga Tatanan Angkutan Konpensional, | 20:30 WIB - GAMKI Pelalawan Kembali Dipimpin Herwin Silaban Periode 2017-2020
OPINI
Wasiat Toga Kepada Sarjana
Jumat, 13/10/2017 - 10:08:31 WIB

Mendengar kata "Toga" apa yang terlintas dalam benak kalian? Barang kali sudah memakainya? Selamat! Buat siapa saja yang telah melewati prosesi akademik yang melelahkan itu, kali ini toga yang kalian pakai dalam seremonial wisuda adalah simbol bahwa kalian adalah pemenang sejati. Kalian telah terlahir sebagai manusia baru, sebab gelar setelah nama yang akan kalian pakai sampai kematian tiba.

Bila dilihat dari bentuknya,  toga sama sekali tidak modis, tidak ada yang memakainya kecuali ketika acara seremonial wisuda dan berfoto-foto. Tak pernah dijumpai orang menggunakan toga di tempat perbelanjaan, kebun, sawah, dan lain-lain. Bisa jadi sebab nilai filosofis yang terkandung dibalik toga tersebut.

Lantas kenapa warna hitam yang digunakan? Mengapa tidak putih yang identik dengan kesucian dan bersih? Pemilihan warna hitam adalah warna kekekalan, keagungan, warna yang kukuh dan tidak terkontaminasi dengan warna lain. Warna yang penuh dengan idealisme dan keteguhan.

Begitupula sarjana baru, seperti sudut toga yang lancip di beberapa arah, artinya wisudawan/i harus pandai mengupas permasalahan hidup secara runcing dan mendalam untuk menemukan solusi dan kebenaran yang ada, cara melihat dari berbagai sudut pandang, tidak satu arah, sebab banyak kemungkinan kebaikan jika melihat permasalahan dari berbagai aspek.

Tali kucir atau tassel yang dipindahkan dari kiri (sebelum lulus) ke kanan (setelah menjadi sarjana) adalah simbol dimana para sarjana harus memiliki pemikiran yang berbeda, dari cara berpikir negatif menuju berpikir positif, dari cara jumud menjadi inovatif, kreatif dan brillian.

Makna filosofis yang ditemukan dari sebuah toga, seyogyanyanya adalah harapan bangsa ini. Harapan daerah, harapan desa, harapan orang tua dan masyarakat.
Perjalanan panjang yang dilalui bukan hanya sekedar pemindahan kucir dari kiri ke kanan belaka. Tapi lebih dari itu.

Mari melihat ke belakang, gelar sarjana yang disematkan di belakang nama sungguh penuh dengan perjuangan, mulai dari pengerjaan tugas akhir, sering begadang, dan menghabiskan banyak uang untuk penelitian, membeli buku referensi dan mempertahankan argumentasi saat persidangan.

Juga peran orang di belakang layar kesuksesan kalian, tetesan keringat, darah, dan doa-doa panjang Bapak dan Ibu, keluarga dan orang-orang yang terus mendukung kalian dari  belakang. Lihatlah rona wajah mereka ketika melihat anaknya wisuda?

Tegakah jika kemudian perjuangan yang tidak main-main itu diselingkuhi dengan kesembronoan dan sekedar gaya-gayaan demi gengsi semata? Kadang sesuka hati masuk atau bolos pada jam perkuliahan.

Tapi toga yang kalian kenakan adalah sebuah pengejawantahan bahwa kalian telah berhasil menaklukan semua itu.

Sungguh gelar di belakang nama adalah sebuah tanggungjawab moral yang besar dibebankan kepada para sarjana baru, yang notabenenya di nilai memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih dan berkualitas, demi kemajuan bangsa, agama dan peradaban dunia.

Penulis adalah Wisudawan Sekolah Tinggi Agama Islam Natuna
Index


Redaksi Riau Global | Pedoman Berita | Pasal Sanggahan | Tentang Kami | Epaper
Copyright 2013 Riau Global : Portal Berita Riau, All Rights Reserved